Aku Tidak Mau Hanya Menjadi Angin

Malam ini kembali bersama Sigur Ros. Entah mengapa, lantunan dan suaranya membuat saya tidak bisa berhenti menulis. Padahal tadi, sempat mata sudah sedikit tak kuat untuk terbuka. Tetap dipaksakan saya harus menulis ini.

Malam ini sama dengan malam sebelumnya. Setelah seorang teman mampu menebak apa yang ada di pikiran, saya kembali menulis tentang dia yang berinisial d. Buat Tuan D. Tentang dia yang akhir-akhir ini kembali merusak otak. Tentang dia yang..yang.. Ah, entahlah. Mari, dengarkan saja ceritanya.

Ssstt.. Saya mengantupkan mulut yang berbunyi seperti desis ular dengan telunjuk. Coba kemari sebentar. Saya ingin bicara. Saya memainkan juga telunjuk mengarahkan seseorang untuk mendekat. Duduklah! Saya menepuk sebuah bangku kosong di depan. Duduk dihadapan agar saya bisa menatap matamu dengan jelas. Walaupun kamu menatap layaknya angin yang biasa berlalu begitu saja. Tetapi tolong, kali ini saja dengarkan ucapan ini. Dan jangan samakan ucapan dengan tatapan. Jangan anggap perkataan saya ini layaknya asap rokok yang biasa dikibaskan sang perokok.

Begini..

Dimas,

Entah mengapa, sejak akhil balik sampai sekarang ini, saya..saya..saya.. Ah, entah apa yang salah. Entah diri, entah hati. Entah kamu yang terlalu saya anggap sempurna. Padahal semua orang tahu, no body perfect. Seperti agama, masalah hati adalah selera. Tetapi apakah selera saya berlebihan? Saya rasa tidak. Kamu lelaki biasa, tampan tidak, tetapi cukup manis. Gagah tidak, tetapi cukup kuat. Senyummu mengingatkan pada seorang mantan penyanyi cilik yang biasa disapa si lumba-lumba. Tetapi saya tidak peduli, apakah kamu mirip dengan si lumba-lumba atau dengan siapa-pun. Bahkan dengan pari sekali-pun.

Kamu masih duduk dengan kepala mengarah ke kanan. Seperti kepala burung garuda lambang negara kita. Tanpa melihat saya. Masih menjadi angin.

Saya tidak peduli. Kamu-pun tidak peduli. Saya tidak peduli atas ketidakpedulian kamu. Dulu memang saya peduli, tetapi sekarang, sudah dikatakan saya tidak peduli.

Tidak peduli akan apa?, kamu bertanya seraya melirik dengan ujung mata dan kembali asik dengan rokokmu.

Tidak peduli bahwa kamu dulu tidak peduli. Egoiskah saya? Saya tetap tidak peduli. Sebagai sikap melupakan masa lalu, dan berharap masa depan. Tetapi aneh, masih ingin bersama kamu. Bersama lelaki yang dulu tidak peduli. Boro-boro peduli, melihatku saja tidak. Bah! Siapa yang egois?

Dan saya masih duduk di hadapanmu tanpa bisa membalas pandangan. Saya terus bercerita dan berceloteh dengan kepala menunduk. Saya hanya ingin kamu tahu.

Terakhir saya melihat kamu di sebuah distro di daerah Gejayan, Yogyakarta. Dengan senyummu yang tak kuasa saya tatap. Dan saya peduli itu. Saya peduli, dengan sepenuh hati akan senyummu yang lupa saya balas atau tidak. Yang saya ingat hanyalah, mengapa kamu bisa bekerja di situ? Sungguh aneh. Ahh..kamu tertawa. Atau memang saya yang ternyata tidak mengenal kamu dengan sunguh. Dan oiya, senyum, senyumanmu, yang tidak bisa saya lupa.

Saya menutup wajah dengan kedua telapan tangan. Agak lama. Lalu telapak tangan tadi saya gosok-gosok di wajah. Seolah ingin menyeka keringat yang keluar dari badan yang duduk di dalam sebuah kursi taman sehabis diguyur hujan. Dan ketika terbuka katub tangan, sekali lagi, saya tidak mau hanya menjadi angin.

Dan hei, sebelum kamu pejamkan mata, tuan; sampaikan juga kepada sang bayu bahwa saya tidak mau seperti dirinya.

Kisah Nelayan Dan Savana Emas

Kamu ingat percakapanku dengan angin dimana aku tidak mau menjadi seperti dirinya? Adalah cerita tentang seseorang yang menunggu perginya angin barat. Dialah nelayan yang mengatung ribuan hari lamanya di tengah samudera dan tidak bisa beranjak menepi. Bahkan tidak dijumpainya nelayan lain dengan perahu motor untuk menolong, yang bisa bergerak tanpa bantuan angin. Dia sendiri di perahu kayunya, dengan layar yang percuma mengembang. Padahal layar itu cukup besar membentang vertikal dan horisontal. Tapi dia tetap tidak bisa bergerak. Dia hanya seolah berjalan di atas air. Atau bahkan berjalan di savana emas dengan sepatu tentara.

Dia juga melupakan hitung-hitungannya tentang rasi bintang. Yang bisa membantu dia menentukan nasib. Si matahari juga ikut dilupakan. Terlebih matahari terbenam yang selalu dia kagumi untuk melapas keringat. Karena keringatnya itu selalu jatuh bagai hujan di seluruh tubuhnya. Kadang berarti, tapi sering juga tidak. Dia belum tentu dapat ikan. Dia tidak punya alat untuk menditeksi keberadaan ikan – ikan cakalang buruannya. Biasanya dia hanya bergantung pada burung camar yang terbang menukik ke atas lalu ke bawah kemudian mendatar. Tapi kali ini si camar –pun tidak bersautan. Kalau sudah begitu, ia hanya bisa menyibakkan rambutnya yang pendek, duduk termenung di painggir pantai. Kemudian pulang dan berbohong kepada orang rumah kalau ia baru saja melihat tarian cakalang. Ketika ditanya kemana tangkapannya, ia beralibi bahwa ikan itu perenang yang hebat. Kailnya bisa saja dilepaskan dengan mudah.

***

Dan dia tetap berada di atas perahunya. Kembali ia melihat ke atas. Masih tidak ada angin pikirnya. Ia mengeluh, kapan bisa pulang. Ia rindu orang rumah. Tapi apakah orang rumah juga rindu padanya? Atau bahkan bersumpah serapah jangan pulang kalau tidak ada cakalang. Sumpah yang dilontarkan orang rumah yang tahu ia bohong? Ah, dia menyesal kali ini. Pikirnya ia pasti kena tulah. Tulah angin. Tulah air. Tulah bintang. Dan tulah senja. Beribu tulah yang membuatnya bisa berjalan di atas air secara tiba-tiba. Seperti Yesus. Atau guru kepik? Kemudian tulah itu membawanya ke padang savana emas. Rasa-rasanya aneh. Baru kali ini ia menemukan savana emas. Tanpa pikir panjang, dipungut sebanyak-banyaknya emas ke dalam pakaian yang sudah di tanggalkan dari badannya. Emas itu nanti akan ia berikan kepada orang rumah sebagai ganti cakalang. Pasti mereka senang. Bahkan mereka bisa memakan emas itu kalau mau.

Tapi tiba – tiba, ia kambali berada di tengah samudera dengan keadaan perahu yang terbalik. Karena ternyata arogansinya membuat ia kembali tanpa angin. Kemudian dengan segala kesadaran penuh, ia mengambang sambil berusaha mengembalikan ke posisi semula perahunya yang terbalik tadi. Dia mengumpat dengan keras. Ia memaki bintang, ia memaki angin. Tapi menangis dalam hati. Ulunya terlalu sakit, melebih penyakit maag yang juga diderita. Karena ternyata ia baru saja terbangun dari mimpi. Dan masih belum bisa pulang ke rumah.

***

You’ll remember me when the west wind moves

Upon the fields of barley

You’ll forget the sun in his jealous sky

As we walk in the fields of gold

So she took her love

For to gaze awhile

Upon the fields of barley

In his arms she fell as her hair came down

Among the fields of gold

Will you stay with me, will you be my love

Among the fields of barley

We’ll forget the sun in his jealous sky

As we lie in the fields of gold

See the west wind move like a lover so

Upon the fields of barley

Feel her body rise when you kiss her mouth

Among the fields of gold

I never made promises lightly

And there have been some that I’ve broken

But I swear in the days still left

We’ll walk in the fields of gold

We’ll walk in the fields of gold

Many years have passed since those summer days

Among the fields of barley

See the children run as the sun goes down

Among the fields of gold

You’ll remember me when the west wind moves

Upon the fields of barley

You can tell the sun in his jealous sky

When we walked in the fields of gold

When we walked in the fields of gold

When we walked in the fields of gold

* Fields Of Gold by Sting