Install this theme

Pesta Hujan Akhiri Aksi Sepuluh Ton Placebo di Jakarta

Tennis Indoor Senayan.

Kali ini Jakarta ‘dibakar’ oleh sebuah band rock alternatif Inggris yang digawangi oleh Brian Molko (guitars&vocal), Stefan Olsdal (bass) dan Steve Forrest (drum) tersebut. Yup, Placebo untuk pertama kalinya menginjakaan kaki di Jakarta, Selasa 16 Februari lalu. Kali ini saya diberi kesempatan untuk menjadi saksi sebuah aksi peralatan panggung seberat sepuluh ton.

Sekitar pukul 6.00 sore kaki ini menginjakan di aspal Senayan. Masih terlihat sedikit beberapa kelompok manusia, tua dan muda, domestik dan mancanegara. Masih terlalu sepi, sampai pada pukul tujuh malam-pun, area festival maupun tribun masih diisi setengah kapasitas. Sempat terpikir, mungkin harga tiket yang cukup mahal dan konser pada weekday. Tetapi saya ternyata salah, setengah jam kemudian, berbondong-bondong orang datang untuk segera memenuhinya.

Aksi

Sekitar pukul 8.30 malam, band yang berdiri sejak tahun 1994 ini mulai tampak oleh mata di sudut panggung dan langsung menggeber dengan hits ‘For What It’s Worth’ dari album ‘Battle for the Sun’. Dan terus tanpa banyak interaksi, Molko dkk terus menghibur ribuan pasang mata dengan  hits-hits mereka diantaranya ‘Every You Every Me’, ‘Bitter End’, dan ‘Special K’ yang membuat semua bibir bersaut untuk menjadi pengiring suara sang vokalis, termasuk saya. Lagu lain yang tak kalah ciamik dimainkan adalah ’Special Needs’, ‘Battle For The Sun’, dan ‘Breathe Underwater’. Sebenarnya saya sedikit berharap mereka memainkan hits-hits di album-album awal seperti ‘Black Eyed’, ‘Passive Aggressive’, dan ’36 Degrees’ serta lagu gubahan seperti ‘Bigmouth Strikes Again’, tapi apa daya ketika Java Musicindo sebagai penyelenggara acara saja tidak berkutik untuk menentukan lagu apa saja yang hendak dibawakan oleh sang artis, terlebih saya.

Dan yang dirasa oleh indera. Tata lampu yang megah; sehingga saya tidak memerlukan teknik yang sulit untuk mengabadikannya dengan kamera slr. Tata suara yang spektakuler; masih terdengar jelas hingga luar venue. Bahkan masih mendengungkan telinga ketika saya sampai rumah. Gitar Molko yang berbeda di setiap lagunya; menyesuaikan kebutuhan di setiap lagunya. Serta peralatan lainnya yang saya tidak tahu apa namanya bahkan yang mungkin saya tidak lihat dan dengar.

Molko sempat berujar bahwa merasa senang memiliki penggemar baru di negara yang pertama kalinya mereka kunjungi. Maka, ketika lautan massa berteriak ‘we want more we want more we want more..’, mereka tak segan untuk masuk kembali ke panggung dan memanjakan kami semua yang hadir.

Hujan Deras..

Akhirnya, setelah kira-kira dua jam, setelah enam manusia berdiri sejajar di panggung saling bergandengan mengangkat tangan mengucapkan salam perpisahan, setelah aksi yang berhasil mengajak saya untuk bernostalgia kembali ke masa-masa sekolah itu selesai, dan setelah gemuruh tepuk tangan berakhir, di luar, disisakan hujan yang cukup deras, menandakan salah satu sudut Jakarta pada malam hari ini telah dihibur.

 
  1. nonnawidi posted this